Perjalanan Mbak Sri

Perjalanan untuk Perubahan memilih tanah Sulawesi sebagai destinasi misi pada tahun 2015. Sri Lestari melakukan perjalanan sejauh lebih dari 2.000 km dari Manado di Sulawesi Utara hingga Makassar di Sulawesi Selatan. Misi perjalanan kali ini pun membawa pesan adanya peran pemerintah daerah di DI Yogyakarta dalam usaha pemenuhan hak-hak difabel. Sehingga Sri pun mampu menanyakan pada pemerintah daerah yang ia kunjungi: “Bagaimana dengan daerah Anda?”.

Sepanjang perjalanan, Sri berhasil bertemu dan berdiskusi dengan pemerintah kota Manado, Sulawesi Utara; pemerintah Provinsi Gorontalo; dan pemerintah kota Makassar, Sulawesi Selatan. Selain itu, Sri juga turut bertemu dengan pemerintah di tingkat kabupaten bahkan kecamatan yang dilewatinya.

Setiap hari, Sri bertemu dan berbincang dengan kurang-lebih 25 orang. Sehingga dari 20 hari perjalanan, Sri telah membagikan fakta-fakta mengenai difabel melalui figurnya pada 500-an orang. Perjalanan ini pun cukup menarik perhatian media lokal bahkan nasional. Media massa mulai memahami isu-isu disabilitas dan diharapkan dapat meningkatkan intensitas isu ini pada khalayak media.

 “DI MANA PUN BERHENTI, SAYA SELALU OTOMATIS DIKERUMINI ORANG. MEREKA PENASARAN DENGAN SEPEDA MOTOR SAYA DAN KARENA YANG MENGENDARAINYA MEMAKAI KURSI RODA.”

Sri Lestari

Perjalanan ini sangat bermakna bagi saya. Walaupun saya ingin diberi waktu lebih lama agar dapat bertemu dengan lebih banyak difabel lagi. Saya mengerti, bagaimana sulitnya menerima keadaan ketika seorang non-difabel menjadi difabel, bagaimana tidak enaknya hidup harus terus bergantung pada orang lain. Namun, saya dan difabel lain yang sudah mandiri, mampu melampaui masa-masa tidak enak itu. Dan saya yang berkesempatan untuk melakukan perjalanan seperti ini ingin memberitahu: “Hei, kita memang harus sama seperti non-difabel. Saya bisa, mengapa kamu tidak?”.

Ketiga perjalanan yang saya lakukan semakin menunjukkan bahwa masih sangat banyak difabel yang masih berdiam diri di rumah karena belum ada dukungan dan kesempatan yang cukup. Khususnya untuk rekan-rekan paraplegi, masih banyak yang bermimpi untuk bisa sembuh dan belum tahu  cara melakukan aktivitas sehari-hari dengan kursi rodanya, belum tahu menjaga diri supaya tetap sehat. Ketika bertemu langsung dengan mereka, saya ingin membagi pengalaman dan semangat saya bagaimana bisa mandiri untuk aktivitas sehari-hari, sehat dan berkarya.

Saya melakukan perjalanan ini juga karena ingin menunjukan kepada masyarakat dan pemerintah bahwa difabel memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk bisa berkarya asalkan ada dukungan dari semua pihak. Seorang difabel mandiri membutuhkan dukungan besar yang dimulai dari keluarga dan lingkungan terdekat. Saya ingat bagaimana usaha Bapak saya membangun kamar mandi yang akses agar saya bisa mandi dan mencuci sendiri. Dimulai dari rumah, kepercayaan diri saya untuk berkarya di luar rumah perlahan semakin kuat. Bahkan sampai bisa berkeliling Indonesia untuk membawa misi bagi difabel lainnya.