foto-Rayyan-Arsa

Client Story: Rayyan Arsa

Rayyan nama panggilannya, anak yang selalu ceria penuh semangat setelah menerima kursi roda adaptif jenis kursi roda berpenyangga UCP Liberty, ya rayyan arsa nama lengkapnya, dia tinggal bersama dengan kedua orangtuanya di Randusari Rt 03,Sitimulyo, Piyungan, Bantul, setiap hari kursi rodanya dipakai setiap pagi sehabis mandi dan jalan-jalan disore hari dilingkungan sekitar rumah, saat ini Rayyan Arsa masih menjalani terapi seminggu 2 kali di RS. Rajawali Citra Bantul

2020-01-16_141005

Client Story: Raihana Zahra

Raihana Zahra Laili tinggal bersama keluarganya di sleman Yogyakarta, ia diasuh ibunya dirumah, ibunya adalah ibu rumah tangga yang mengurus Raihana, Raihana merasa senang dengan kursi roda barunya, ibunya mendudukan di kursi roda setiap selesai mandi dan jalan-jalan di sekitar rumah bersosialisasi dengan tetangga disore hari, raihana senang mendengarkan music, ibunya selalu memutarkan lagu untuknya. ibunya merasa senang dengan adanya kursi roda jenis UCP Liberty ini yang sangat cocok untuk anaknya, dengan kursi roda adaptif tersebut Ibu Raihana bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah dan mengantar anaknya yang lain ke sekolah. Rencana tahun depan Raihana Zahra Laili akan di masukan sekolah SLB Yapenas di Pringwulung. Raihana sangat ingin sekolah juga seperti adiknya yang tahun ini sudah masuk sekolah. Bapak dan Ibu Raihana juga berharap bisa menyekolahkan Raihana supaya anaknya berkembang

Foto Suparno5

Client Story: Bapak Suparno

Namanya adalah Bapak Suparno, beliau lahir di semarang, 3 Februari 1974. Beliau menjadi disabilitas karena waktu kecil umur 1 tahun beliau jatuh dan akhirnya tidak bisa jalan. Sekarang ini beliau tinggal di desa Kramas Rt 02/03, Tambalang, Semarang Kota, bersama dengan istrinya. Kesehariannya pak Suparno membuka jasa potong rambut dirumahnya, sedangkan istrinya membantu perekonomian keluarga dengan membuka jasa laundry pakaian. Beliau juga aktif di komunitas disabilitas compact di daerah semarang, untuk mobilitas setiap harinya bapak suparno menggunakan kursi roda, namun demikian kursi roda yang beliau pakai saat ini sudah rusak atau tidak berfungsi dengan baik serta  tidak sesuai dengan kebutuhan pak suparno, pak suparno menggunakan kursi roda jenis standard sedangkan pak suparno adalah disabilitas yang aktif sehingga kursi roda yang sesuai dengan beliau adalah kursi roda jenis aktif. Harapan beliau ketika ada yang membantu beliau akan sangat senang dan terbantu jika mendapatkan kursi roda jenis aktif untuk menunjang kegiatan sehari-hari.  

Sri

Perjalanan Untuk Perubahan: Sulawesi 2015

Perjalanan untuk Perubahan memilih tanah Sulawesi sebagai destinasi misi pada tahun 2015. Sri Lestari melakukan perjalanan sejauh lebih dari 2000 km dari Manado di Sulawesi Utara hingga Makassar di Sulawesi Selatan. Misi perjalanan kali ini pun membawa pesan adanya peran pemerintah daerah di DI Yogyakarta dalam usaha pemenuhan hak-hak difabel. Sehingga Sri pun mampu menanyakan pada pemerintah daerah yang ia kunjungi: “Bagaimana dengan daerah Anda?”

Sepanjang perjalanan, Sri berhasil bertemu dan berdiskusi dengan pemerintah kota Manado, Sulawesi Utara; pemerintah Provinsi Gorontalo; dan pemerintah kota Makassar, Sulawesi Selatan. Selain itu, Sri juga turut bertemu dengan pemerintah di tingkat kabupaten bahkan kecamatan yang dilewatinya.

Setiap hari, Sri bertemu dan berbincang dengan kurang-lebih 25 orang. Sehingga dari 20 hari perjalanan, Sri telah membagikan fakta-fakta mengenai difabel melalui figurnya pada 500-an orang. Perjalanan ini pun cukup menarik perhatian media lokal bahkan nasional. Media massa mulai memahami isu-isu disabilitas dan diharapkan dapat meningkatkan intensitas isu ini pada khalayak media.

“DI MANA PUN BERHENTI, SAYA SELALU OTOMATIS DIKERUMUNI ORANG. MEREKA PENASARAN DENGAN SEPEDA MOTOR SAYA DAN KARENA YANG MENGENDARAINYA MEMAKAI KURSI RODA.”

Sri Lestari

Perjalanan ini sangat bermakna bagi saya. Walaupun saya ingin diberi waktu lebih lama agar dapat bertemu dengan lebih banyak difabel lagi. Saya mengerti, bagaimana sulitnya menerima keadaan ketika seorang non-difabel menjadi difabel, bagaimana tidak enaknya hidup harus terus bergantung pada orang lain. Namun, saya dan difabel lain yang sudah mandiri, mampu melampaui masa-masa tidak enak itu. Dan saya yang berkesempatan untuk melakukan perjalanan seperti ini ingin memberitahu: “Hei, kita memang harus sama seperti non-difabel. Saya bisa, mengapa kamu tidak?”.

Ketiga perjalanan yang saya lakukan semakin menunjukkan bahwa masih sangat banyak difabel yang masih berdiam diri di rumah karena belum ada dukungan dan kesempatan yang cukup. Khususnya untuk rekan-rekan paraplegi, masih banyak yang bermimpi untuk bisa sembuh dan belum tahu cara melakukan aktivitas sehari-hari dengan kursi rodanya, belum tahu menjaga diri supaya tetap sehat. Ketika bertemu langsung dengan mereka, saya ingin membagi pengalaman dan semangat saya bagaimana bisa mandiri untuk aktivitas sehari-hari, sehat dan berkarya.

Saya melakukan perjalanan ini juga karena ingin menunjukan kepada masyarakat dan pemerintah bahwa difabel memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk bisa berkarya asalkan ada dukungan dari semua pihak. Seorang difabel mandiri membutuhkan dukungan besar yang dimulai dari keluarga dan lingkungan terdekat. Saya ingat bagaimana usaha Bapak saya membangun kamar mandi yang akses agar saya bisa mandi dan mencuci sendiri. Dimulai dari rumah, kepercayaan diri saya untuk berkarya di luar rumah perlahan semakin kuat. Bahkan sampai bisa berkeliling Indonesia untuk membawa misi bagi difabel lainnya.

Perjalanan untuk Perubahan memilih tanah Sulawesi sebagai destinasi misi pada tahun 2015. Sri Lestari melakukan perjalanan sejauh lebih dari 2000 km dari Manado di Sulawesi Utara hingga Makassar di Sulawesi Selatan.

3

Pelatihan Perawatan dan Perbaikan Kursi Roda

Dengan dukugan dari @fordfoundation, UCPRUK mengadakan pelatihan perawatan dan perbaikan kursi roda selama tiga tgl 11,12 dan 13 Februari 2020 di kantor @ucprukindonesia. Pesertanya 7 penyandang disabilitas,  3 dari Kulon Progo,  1 dari Magelang, 2 dari  Semarang dan 1 dari Kota Yogyakarta, tujuan diadakan pelatihan ini adalah membangun kapasitas,  pengetahuan dan keterampilan tentang perawatan dan perbaikan kursi roda bagi penyandang disabilitas yang akan bergabung di tim reparasi kursi roda  yang telah terbentuk sebelumnya  di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah.